Sepakbola, siapa yang tidak kenal dengan olahraga yang satu ini, dari orang dewasa sampai anak2 pun udah pasti tau, dari cowok sampai cewek pun uda kenal, dari bapak2 sampai ibu2 kenal. Sebuah permainan yang mengandalkan kolektifitas tim dan individu. Permainan yang memperagakan cara mengolah si kulit bundar ( alias bola ) dengan kaki, entah dribel, shooting, passing dll dsb, hingga memasukkan bola kedalam gawang ( goooolll…!!!! ). Dalam tulisan saya kali ini, saya akan mendeskripsikan permainan sepak bola di negeri kita tercinta, INDONESIA.
PERMAINAN TERKERAS
masih membekas dalam ingatan kita kemaren belum lama ini, tentang meninggalnya seorang pemain dari kesebelasan PKT Bontang ( walopun bukan siapa-siapa saya ikut berduka ), Jumadi Abdi, mantan punggawa Indonesia di ajang SEA GAMES yang meninggal akibat bertabrakan dengan seorang pemain persela, Deny Tarkas. Diduga, kaki dari Deni menerjang perut Jumadi dan mengakibatkan Jumadi terkapar dan segera ditandu keluar lapangan. Beberapa saat kemudian, Jumadi dilaporkan meninggal, diagnosis dokter mengatakan, Jumadi meninggal karena robeknya bagian usus halus yang mengakibatkan kotoran hasil pencernakan makanan yang tersimpan di usus halus bocor keluar dan meracuni organ bagian dalam. Hadiah apa yang diberikan oleh wasit ???sebuah kartu kuning. Sebuah hal yang kurang menggembirakan, mengingat begitu kerasnya pelanggaran tersebut. Ketua Komdis PSSI, Hinca Panjaitan menilai bahwa tragedi meninggalnya, pemain PKT Bontang, Jumadi Abdi, tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal karena masih berada dalam koridor olahraga.
” Menurut Hinca lagi, jika akhirnya perlakuan seseorang dalam olahraga menyebabkan kematian, bukan berarti tindak pidana yang harus ditangani langsung oleh aparat keamanan. “Ini adalah bagian dari olahraga yang penuh risiko. Jadi sama saja dengan permainan tinju profesional yang bisa menyebabkan kematian. Selama ini, belum pernah ada petinju yang meninggal setelah bertanding, kasusnya langsung ditangani aparat keamanan,” tutupnya. Sayangnya, Hinca tidak menjelaskan lebih lanjut persamaan terkena pukulan dalam olah raga bela diri macam tinju dengan terkena “tendangan maut” saat bermain sepak bola….” ( kapanlagi.com )
Ada juga pelanggaran keras terhadap pemain AREMA malang, Emeleu Serge, yang mengakibatkan patahnya kaki pemain tersebut, dan hampir saja karier pemain tersebut berakhir.
KINERJA WASIT DAN APARAT PERTANDINGAN
Ada juga protes terhadap keputusan wasit yang dianggap merugikan oleh pemain, sehingga wasit pun menjadi bulan-bulanan oleh pemain (hahaha….) jd kl nonton liga indonesia kayak nonton tinju, kadang antar pemain pun ada yang saling berkelahi, terkadang, official pun ikut-ikutan berantem (..wih mirip tawuran beneran….emang beneran ), jadi ketika ayik-asyik nonton sepak bola di stadion jangan kaget dan gak usah minder, lo tiba-tiba liat pemandangan yang rese’ ( alias gak enak ditonton ). Ntah pmainnya yang berantemlah, ntah wasitnya yang dikejar-kejar sama para pemain, dipukul ditendang. Mungkin masyarakat kita terbiasa dengan adegan kekerasan seperti itu, jadi adegan seperti itu seperti hal biasa ( bener g ??? ).
Hal ini dikarenakan ( menurut saya..) kurangnya kesadaran kita terhadap aturan2 sepakbola itu sendiri, coba liat liga2 Eropa dan liga2 lainnya, adakah pemain yang mengejar-ngejar wasit, adakah hukuman bagi pelanggaran yang sangat keras???adakah wasit membuat keputusan yang kontroversi ( ada sih, tp kan masih bisa dimaklumi…dan bisa ditrima akal sehat ). Di Eropa dan Liga2 lainnya, sudah ada aturan tentang sepak bola dan perlindungan terhadap wasit. Jadi ketika wasit yang memimpin sebuah pertandingan mengeluarkan keputusan kontroversi, para pemain yang bersangkutan pasti memprotes keputusan wasit, tp tidak berlebihan, dan tidak sampai menghentikan pertandingan ataupun mogok main karena keputusannya yang tidak adil, tidak sampai memburu wasit, karena para pemain tau bahwa yang berkuasa dalam pertandingan adalah wasit. Tapi di Indonesia, walaupun liganya tidak sebesar dan semenarik liga Eropa, semua itu tidak berlaku, yang penting main, timnya menang ( bgitu kali ya yang ada di benak para pemain )
Antusiasme masyarakat akan sepak bola sangat tinggi bahkan sampai menuju fanatisme yang berlebihan ( biasalah masyarakat Indonesia ), jangankan orang tua, anak kecil aja uda tau permainan sebuah tim enak ditonton pa gak. Jadi ketika sebuah tim permainannya kurang bagus alias kurang greget, bersiap-siaplah menerima ejekan penonton. Entah itu dilempar air minerallah, umpatan2 kotorlah, bahkan sampai teror. Tapi hanya sebagian kecil supporter yang melakukan hal itu ( fanatisme gendeng…!!! ). Dulu, ketika tim pujaan kalah, palagi kalah di kandang, wah….anarkisme pun terjadi dan apa yang terjadi ???” TAWURAN “…heemm..jadi inget waktu masa kecil dulu ( maklum ). Waktu itu gak ada suporter kayak sekarang, banyak, dulu cuman sebagian aja komunitas suporter, salah satunya AREMANIA ( tau gagh??jangan ngaku arek Malang lo gagh tau the best supporter di Indonesia….wew narsis ). Dulu AREMANIA g seperti sekarang, damai, tertib. Slogan mereka waktu itu ” kalah menang tawur ” (uwih..syeyem…!! ), jadi hampir dipastikan ketika AREMA bertanding, pasti toko2 pada tutup (..saking brutalnya..!! ), tp itu dulu..sekarang uda g jamannya lagi gitu2an, mereka udah sadar sendiri.
bersambung…
